Sakana Food Depok : Peluang Usaha Frozen Food Sakana Indo Prima
081288993255
Sakana » Blog » Mengenal CV Sakana Indo Prima

Mengenal CV Sakana Indo Prima

CV Sakana Indo Prima didirikan Saefudin dan sahabatnya, Redy Ardiansyah, pada 2009 dengan modal Rp 30 juta. Pabrik atau kantor pertama CV Sakana Indo Prima berada di wilayah Jakarta utara, perkembangan sakana sangat di pengaruhi oleh dua orang pendiri sakana yaitu Pak Redi dan Pak Udin, dua orang yang ahli dalam bidang perikanan, mulai mengembangkan merek Sakana dimulai dari jual beli ikan, bakso sakana dan juga olahan ikan yang lainnya.

Perkembangan Sakana dimulai sejak pabrik sakana mulai menempati tempat barunya di wilayah Depok Jawa barat, CV Sakana Indo Prima depok di daerah Sawangan, pada mulanya mengembangkan produk bakso ikan sakana, atau sering disebut bakso cilok sakana, metode yang digunakan adalah berjualan bakso ikan sakana dengan merangkul para agen sakana di wilayah masing masing dan kemudian agen sakana ini mencari pedagang untuk berjualan keliling bakso sakana dengan menggunakan gerobak sakana, diluar dugaan ternyata produk bakso ikan sakana ini sangat diminati dan begitu digemari oleh masyarakat terutama anak anak karena menjadi jajanan yang sehat dan bergizi dan sakana tanpa bahan pengawet sehingga aman dikonsumsi semua kalangan.

Dengan begitu digemarinya bakso ikan sakana ini, maka otomatis para pedagang bakso ikan sakana dan agen sakana mendulang laba yang besar.

Setelah sukses dengan bakso ikan sakana para owner dari CV Sakana Indo Prima mulai mengembangkan produk olahan sakana yang berbahan dasar ikan dan udang.

Saefudin, pemilik CV Sakana Indo Prima, yang juga bergerak di bidang yang sama. “Sampai saat ini, permintaan pasar terhadap produk olahan ikan kami saja 30% di atas produksi kami. Apalagi, kita bicara permintaannya secara luas. Pasar produk ini memang sangat luas,” kata Saefudin.

Awal Sakana 2006

Tahun 2006, Saefudin merintis usahanya bekerja sama dengan rekannya, Redy Ardiansyah. Awalnya, CV Sakana Indo Prima hanya membeli dan menjual ikan segar dengan modal awal sebesar Rp 30 juta. Bisnis ini dipilih karena mereka adalah lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan. Jadi, mereka sudah akrab dengan hal ini. Makanya, ia menyarankan, jika tak ingin atau tak bisa meminjam modal besar, Anda dapat memulai usaha makanan olahan ikan ini dengan merintis secara kecil-kecilan sambil menabung untuk investasi.

“Kami memulai usaha ini berdua, tanpa bantuan bank. Karena dari dulu sulit bagi kami untuk mendapatkan pinjaman dari bank, padahal kita sudah mengajukan permohonan beberapa kali,” pungkasnya.

Sayangnya, bisnis jual beli ikan hanya bertahan sekitar 2 tahun. Mereka tidak mampu berkembang dan bahkan sering menjual ikan tanpa mendapatkan keuntungan. Akhirnya, mereka menutup gudang mereka di Muara Baru.

Dari kegagalan ini, menyerah tidak ada di dalam kamus Saefudin dan Redy. Mereka menjadikan kegagalan ini sebagai pelajaran untuk bisnis mereka di masa mendatang. Satu hal yang mereka dapat dari kegagalan ini adalah mereka harus mampu menciptakan pasaran bisnis untuk berhasil.

CV Sakana Indo Prima Mulai Produksi

Pada pertengahan 2009, Saefudin dan Redy akhirnya memutuskan untuk memulai usaha baru, yaitu bakso ikan. Sebenarnya, produk ini sudah mereka jual saat mereka menjalankan bisnis mereka yang pertama. CV Sakana Indo Prima berkembang menjadi usaha pabrik pengolahan ikan laut. Saat ini, Sakana memproduksi 6 ton hingga 7 ton olahan ikan per hari.

Untuk menarik konsumen, ada beberapa konsep menarik yang ditawarkan Saefudin dan Redy. Salah satunya adalah ukuran. Mereka memilih menggunakan ukuran kecil agar mudah dikonsumsi, layaknya cilok. Dengan demikian, konsumen akan terus berusaha membeli lagi dari mereka.

Selanjutnya adalah menonjolkan unsur kesehatan produk. Saefudin dan Redy menggunakan ikan tuna yang aman dan sehat untuk bakso ikan mereka. Selain itu, mereka juga mendapatkan sertifikat halal.

Yang terakhir adalah penjaminan mutu produk. Mereka menggunakan metode traceability. Dengan tiga hal ini, mereka berhasil membuat produk mereka menarik. Selain itu, mereka juga dapat mendidik masyarakat mengenai makanan berkualitas dengan harga terjangkau.

Pabrik Sakana Indo Prima

Saat ini, Saefudin memiliki luas lahan 1.650 m² untuk total produksi 6 ton hingga 7 ton per hari. Namun, untuk usaha kecil, lahan seluas 500 m² sudah cukup. Pabrik dibangun di atas lahan seluas 300 m2 dan selebihnya untuk pabrik dan operasional. Namun, perlu diingat, kuncinya jika ingin membuat pabrik seperti ini, perputaran penjualan pun harus cepat. Jika tidak, maka harus menyediakan lagi gudang cold storage untuk menampung hasil produk olahan ikan.

Anggap saja, satu pabrik dalam sehari bisa menghasilkan produk olahan ikan sebanyak 4 ton. Nah, dalam 20 hari saja, hasil produksinya 200 ton. Jika penjualannya tidak cepat maka harus menyediakan gudang penyimpanan dingin yang dapat menampung produk sebanyak 200 ton. Pasalnya, produk olahan ikan ini tak tahan lama.

Harga cold storage buatan Jepang ini sekitar Rp 500 juta untuk kapasitas 10 ton hingga 15 ton. Bayangkan, jika harus menyimpan 200 ton, maka perlu 15 unit hingga 20 unit cold storage dalam pabrik yang bakal menghabiskan dana besar.

Cold Storage Rakitan Sendiri

Untuk menyiasatinya, Saefudin merakit sendiri panel-panel pendingin seken dengan kompresor. “Biayanya jadi hanya Rp 120 juta,” ujar pria lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan Jakarta ini.

Saefudin juga membagi tips untuk penyediaan mesin di pabrik. Mesin yang digunakan bervariasi tergantung produk yang dihasilkan. Namun, ada mesin yang umumnya ada dalam pabrik pengolahan ikan laut. Di antaranya, mesin penggiling, mesin pengaduk bahan dan mesin pencetak. Untuk menghemat biaya mesin, dapat memodifikasi sendiri mesin yang ada di pabrik. “Semua mesin kami berasal dari dalam negeri dengan modifikasi sendiri. Kami merancang sendiri tinggal bawa ke bengkel,” kata Saefudin. Cara tersebut memangkas pengeluaran dana sebesar 50% hingga 70%, ketimbang mengimpor.

Syaratnya, pengusaha harus lebih rajin membeli dan mengumpulkan suku cadang mesin sendiri. Misalnya, membeli motor penggerak di Glodok, Jakarta barat, membeli besi stainless steel sendiri, atau membeli dandang di kawasan Cawang. Asal mau repot, pasti bisa menekan biaya. Kalau peralatan sudah lengkap, butuh waktu antara 1 minggu–2 minggu untuk merancang mesin itu.

Sakana Membuka Lapangan Kerja

Setelah mesin, jangan lupa menyediakan tenaga kerja yang dibutuhkan. Saefudin saat ini membawahi 130 orang karyawan. Sementara karyawan Suharjito berjumlah 140 orang.

Pelatihan karyawan juga sangat penting. “Kamis sering mengikutkan karyawan dalam pelatihan dari pemerintah, seperti pelatihan bina mutu makanan. Saya sendiri bersama pendiri yang lain juga sering mengajarkan ke karyawan langsung,” imbuh Saefudin.

Kualitas Ikan Untuk Produk Sakana

Adapun, Saefudin biasa membeli bahan baku ikan tuna yang berasal dari Makassar, Bali, Bitung dan Ambon. Namun, ia membelinya melalui pengepul di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara.

Untuk menjaga kualitas ikan yang dibeli, pengusaha bisa membeli dari pemasok besar yang sudah memiliki kontrol kualitas atas produknya.

Selain bahan baku, penting pula bagi para pengusaha membuat produk olahan yang menarik. Kreasi dan inovasi dalam menghasilkan olahan yang kreatif menentukan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

Strategi Penentuan Harga Sakana

Untuk penetapan harga, bisa dilakukan dari hitungan bahan baku yang digunakan. Menurut Suharjito, bahan baku biasanya memakan porsi 60-70%. Lalu, 15% sampai 20% biaya operasional dan listrik. Sedangkan, sekitar 10%-15% untuk laba bersih di luar potongan pajak.

Hal ini diamini pula oleh Saefudin. “Sudah ada hitungan standarnya, kalau kita ambil untung lebih tinggi, pasti akan kalah dengan pesaing lain,” katanya. Demi meraup untung atau memangkas harga, Anda jangan pula membuat bahan baku campuran atau mengurangi komposisi ikan. Ini bisa membuat pelanggan kabur.

Strategi Marketing Sakana

Saefudin memiliki strategi lain. Ia membagi dua sisi pemasaran. Pertama, dengan merek sendiri, yakni Sakana. Selain itu, ia juga membangun kemitraan. Mitra ini akan mengambil barang lalu memberikan mereknya masing-masing. Saat ini, mereka memiliki tiga mitra.

Tujuannya agar dapat fokus di proses produksi. Sedangkan pihak ketiga sebagai mitra fokus menggarap sisi pemasaran. “Jadi strategi kami people network karena pusing kalau memikirkan dari ujung ke ujung, dari produksi hingga pemasaran,” imbuhnya.

Dia hanya mengambil marjin produksi dan tidak mencomot margin dari pemasaran produk. Ini merupakan strategi diambil agar usahanya dapat bertahan dan mampu bersaing melawan pemain-pemain besar. “Kalau pemain besar kan mengambil marjin produksi sekaligus marjin marketing,” imbuh Saefudin, yang mengaku 50% porsi penjualan merek Sakana dan 50% sisanya untuk tiga mitra lain.

Untuk memenangkan persaingan, pengusaha pemula harus bisa bersaing dari sisi harga, kualitas produk dan pelayanan penjualan. Usaha ini balik modal dalam tiga tahun.